23 Januari 2018

2017 Highlights of My Life

Selasa, Januari 23, 2018 0 Comments
Hari ke Dua Puluh Tiga di tahun 2018.

Sebelumnya, Happy New Year buat semuanya! Sudah lama tidak berbacot ria di halaman ini. Rindu serindu-rindunya. Sudah lama hati ini ingin menulis lagi, tapi apadaya pikiran, hati, dan tangan tidak sejalan. Hingga akhirnya waktulah yang akan merebut semuanya. Heh, alah. Ini apaan yak? wkwk

Anyongaseyoooo yorobuuun! Gak kerasa ya udah tahun 2018 aja. Padahal banyak hal di tahun 2017 yang belum sempet gw ceritain. Bisa diliat di arsip blog ini tulisan gw cuma ada 4 postingan di tahun 2017. Paling sedikit di antara tahun-tahun lain. OH MY! Ya, seperti yg gw bilang sebelumnya, tahun lalu entah kenapa gw males banget untuk menulis lagi. Entah karena kekecewaan yang terlalu banyak, hidup yang masih tak tentu arah atau memang dari dalemnya sudah ada yang hilang (semangatnya).

Oke, gw akan menebus kesalahan gw dengan menceritakan highlight apa aja yang terjadi di kehidupan gw selama tahun 2017. Hitung-hitung untuk me-remind lagi apa aja yg udah gw lalui di tahun kemarin. Agar dapat jadi pembelajaran, momen bersyukur, dan sedikit flashback untuk direnungi, diintropeksi dan dijadikan acuan untuk ke depannya.

Mari kita rewind kembali 2017 HIGHLIGHT OF MY LIFE.
Mari kita look back. Dimulai dari awal tahun 2017.

Januari, 2017

Tidak banyak hal yang terjadi di bulan ini, dua bulan sudah semenjak acara wisuda sarjana gw. Seperti kebanyakan mahasiswa yang telah lulus lainnya, gw disibukkan dengan mencari job loker disana-sini. Entah itu dari website loker, aplikasi loker, ataupun dari broadcast teman-teman yang dikirimkan ke gw. Udah gak bisa dihitung lagi udah berapa email yang gw kirim, udah berapa kali gw submit cv, udah berapa ikut tes online, untuk memenangkan hati perusahaan agar dapat nerima gw. Tapi belum ada yang nyantol satupun.

Pada bulan ini untuk pertama kalinya juga gw ngikutin tes kerja, yaitu tes menjadi pegawai Bank Mandiri Syariah. Setelah ikut jobfair yg diadakan di salah satu tempat di Lampung, akhirnya ada yang manggil gw untuk tes kerja. Tapi apadaya gw gak lulus, dan waktu terus berjalan. Gw kembali mencari loker disana-sini. Dan pada akhirnya bank BTN membuka lowongan, dan gw ikut mendaftar dan ikut melaksanakan tesnya. Namun lagi-lagi, keberuntungan belum berpihak. Gw gagal di interview awal.

Selain itu juga ada beberapa test yang pernah gw ikuti di Lampung dan belum beruntung, seperti tes pada perusahaan CJ Food, tes online pada perusahaan Coca-cola dan  Telkom.

Februari, 2017
Liburan keluarga sebelum bertempur menjadi jobseeker
Pada bulan ini gw memantapkan hati untuk mengatakan pada orang tua kalau gw ingin mencari kerja di Jakarta. Kebetulan keluarga gw ada urusan ke Jakarta sekalian gw ikut, dan mempersiapkan 1 buah koper untuk hidup disana. Jujur, gw gak punya bayangan sama sekali mau nyari kerja apa di Jakarta nanti. Yg gw tau gw ingin mencoba dan merasakan menjadi jobseeker di kota besar itu, apakah gw mampu menaklukkan kota yang kata orang-orang itu sangat kompetitif.

Jadilah gw tinggal di Jakarta dari akhir Februari. Setelah seminggu bersama keluarga untuk berholiday ria, akhirnya keluarga gw balik ke Lampung dan gw sendirian di Jakarta. Dari sinilah perjuangan yang penuh dengan kekecewaan, keraguan, kekhawatiran bahkan penuh airmata itu dimulai.

Maret, 2017

Gw sudah mengikuti beberapa jobfair di Jakarta. Bermodalkan internet dan ojek online gw mengarungi setiap tempat di Jakarta hanya untuk mengikuti jobfair disana-sini dan tes dimana-mini. Bisa dibilang gw sama sekali gak tau arah hidup gw saat ini, yg gw tau gw lagi nyari kerja yang pas di hati. Setelah mengikuti beberapa jobfair di Jakarta, ada beberapa perusahaan yang manggil gw untuk test. Yang gw inget ada PT Pharos, AIA, BNI Life, Mega Finance, Paragon, Wom Finance, Trans Retail Bank Mandiri, BFI Finance, MNC Media, Asuransi Astra, Net TV, Bank Mega.

Banyak ya? Hahaha. Bisa dibayangkan betapa sibuknya gw mondar-mandir di kota besar ini, seorang diri, dengan tujuan hidup yang sama sekali gak ada bayangan. Gilaaaa. Kalo diinget-inget lagi rasanya itu kayak lo lagi berjuang, tapi lo gak tau apa yang lagi lo perjuangin. Yg lo tau cuma lo harus memenangkan salah satu pertarungan itu. Hanya itu. Dari sekian banyak tes yang gw ikuti di banyak perusahaan itu hanya AIA yang berhasil gw menangkan namun hanya gw abaikan. 

Udah kecium ya pola gw nyari kerja, wkwkwk. Ya, jadi gw berusaha untuk mengikuti semua tes kerja dan di akhir gw akan memilih apakah benar-benar ingin kerja disana atau gak. Bisa dibilang percuma aja, mending dari awal ditetapkan pengennya kerja dimana dan sebagai apa. Tapi mau gimana, gw pengen ngelihat sejauh mana sih kemampuan gw untuk menaklukkan persaingan untuk mencari kerja yg layak di Jakarta ini.

Setelah mengikuti beberapa tes yang gw sebutin di atas ada satu perusahaan yg gw sangat berharap banget bisa diloloskan. NET TV. Ya, gw ikut tes MDP V tahun 2017 bersama 50 ribu calon lainnya. Bisa dibilang memorable moment gw saat menjadi jobseeker yaitu saat mengikuti tes kerja Net TV ini. Jadi gw akan ceritakan cerita panjangnya disini.
Suasana di Sentul, gileee banyak banget ini pesertanya
Gw ikut tes Net TV pada akhir Maret 2017 di Sentul International Covention Center (SLCC) di Bogor. Untuk pertama kalinya gw naik KRL ke Bogor sendirian dan gak tau sama sekali tempat tesnya. Gw hanya akan mengandalkan kendaraan online, itu pikir gw. Namun rencana tuhan lebih indah. Gw ditemukan secara gak sengaja dengan 4 orang sejawat lainnya yang juga hendak mengikuti tes Net TV. Hal ini tentu memudahkan gw untuk sampai di tempat tes, karena gw sama sekali gak tau dimana tempatnya berada.

Kita memutuskan untuk memesan gocar kesana. Dan ternyata pilihan kita sangat tepat, karena di Bogor saat itu lagi ada demo ojek online, dan lagi rusuh-rusuhnya. Jadi bisa dibayangin kalau gw sendirian mungkin gw kebingungan kenapa gak bisa mesen ojek online disini.

Alhamdulillah kita sampe sebelum jadwal tesnya tiba. Di perjalanan gw inget itu hari hujan deres, dan gw bersama 4 orang teman baru yang asik-asik banget. Kita langsung memutuskan utk membuat grup WA supaya lebih memudahkan pada saat pulangnya nanti.

Tes dimulai jam 3 dari jadwal seharusnya jam 1. Gw bareng oca salah satu dari 4 orang temen baru yang gw dapatkan di jalan tadi. Sebenernya tesnya sebentar dan cukup simple, yaitu tes koran dan kepribadiaan. Berhubung gw sudah mengikuti berbagai tes kerja, jadi gw sudah mulai terbiasa dengan yang namanya tes menjumlahkan angka di kertas sebesar koran tersebut.

Tes berakhir sekitar pukul 6 sore. Kita saling kontak satu sama lain, berhubung gw sama oca jadi kita berdua saling mencari ketiga personil yang lain. (Eh kyk grupband aja wkwk). Awalnya kita berencana menggunakan gocar untuk pulang, tapi setelah dicari gak kunjung ada driver yang mengambil pesanan kita. Jadilah satu di antara kita mengusulkan untuk naik travel yang ada di tepi jalan ini. 

Singkat cerita kita akhirnya mendapatkan travel dengan harga terbaik, lumayanlah daripada gak pulang, yee kan. Gw liat pas pulang banyak banget orang disana-sini yang masih kebingungan gimana caranya pulang. Alhamdulillah gw bersyukur ditemukan sama mereka, jadi gw lebih dimudahkan untuk hal pergi dan pulangnya. Kita memutuskan untuk berpisah di Stasiung Cawang. Dari sini gw dan oca bareng ke Tanah Abang. Dan tiga personil lain juga pulang ke tempat mereka.
Temen-temen kece, sempetnya foto sebelum berpisah
Setelah mengikuti tes di Bogor tersebut, cuma gw yang dinyatakan lulus ke tahap selanjutnya. Keempat orang teman sejawat yg sudah membantu gw selama perjalanan tes kemarin tidak ada yg lulus. Gw sungguh amat bersyukur dan sedih kenapa mereka yang udah baik sama gw gak lulus.

Singkat cerita, di tahap kedua gw kembali mengikuti tes, dan alhamdulillah lulus. Dan disinilah gw di tahap akhir, interview. Tes yang paling gw takuti, karena gw selalu berakhir di tes interview. Namun dengan percaya diri gw mengikuti tes interview ini berharap disinilah perjuangan pencarian kerja gw akan berakhir. Gw sudah menjawab beberapa pertanyaan dengan baik dan percaya diri. Gw optimis bisa mendapatkan pekerjaan disini. Gw sangat berharap bisa bekerja disini.

April, 2017

Pada awal bulan ini gw balik ke Lampung. Sekalian menunggu hasil tes Net TV keluar. Gw sangat deg-degan menunggu pengumuman tes kemarin keluar. Dari beberapa tes kerja yang udah gw lewati mungkin hanya di Net TV yang paling bikin gw deg-degan. Gw selalu matengin sosmed dan website mereka. Hingga sore itu tiba.

Gw berharap saat gw login tulisan Selamat akan muncul. Namun itu hanya sekedar harapan saja. Gw gak lulus. Jujur, gw kecewa banget. Mungkin disinilah kekecewaan terbesar yang gw rasakan selama beberapa kali gagal dalam mencari kerja. Mungkin bener kata orang kalau terlalu besar berharap, saat jatuh sakitnya akan terasa amat dalam. :(

Gw sedih, namun gw memutuskan untuk melanjutkan perjuangan itu kembali. Dont stop when youre tired, stop when youre done. Akhirnya gw kembali lagi ke Jakarta, melanjutkan kembali perjuangan yg belum usai. Gw mengulangi kegiatan yang sangat melelahkan yang pernah gw lakukan di bulan sebelumnya. Mencari info jobfair di interner - print perlengkapan lamaran - ikut jobfair - berdesak-desakkan - melihat stan2 jobfair - apply (meninggalkan cv) - menunggu panggilan tes kerja. Siklus itu gw ulangi beberapa kali, setiap minggunya gw ikut satu atau dua kali jobfair. Berharap ada yang nyantol sama gw.
Waktu ikut tes Maybank, lagi-lagi gak lulus setelah interview
Hingga ada beberapa perusahaan yg manggil gw untuk tes, seperti BPJS, BRI Syariah, Maybank, Super indo, SMS Finance, Asaba. Dan yang nyantol sampe akhir hanya SMS Finance. Namun lagi-lagi keraguan itu muncul. Karena kerjanya pake tahan ijazah dan ikatan sampe 3 tahun, membuat gw ragu-ragu apakah memang ini jalan yg digarisnya utk gw. Lama gw memikirkan utk tidak menerimanya, ditambah dengan beban yg gw hadapi saat di Jakarta membuat gw agak frustasi dan sedih. Gimana gak sedih coba, gw berjuang hampir 3 bulan disini dan belum juga mendapatkan kerja. Udah berapa duit orang tua yang abis, udah berapa banyak perusahaan yang gw ikuti tesnya namun belum ada yg cocok. Sekalinya udah cocok malah gak lulus.

Mei, 2017

Udah bulan mei, dan gw udah sedikit putus asa. Gw memutuskan untuk tinggal di rumah kakak sepupu di daerah Jakut. Gw gak lagi numpang ngekos di kosan temen gw, karena gw pesimis untuk ikut jobfair lagi. Dan gw mulai memikirkan kalau gw akan bertahan sampe pertengahan bulan aja. Kalau masih belum dapet kerja, gw akan pulang aja. Hingga pada akhirnya gw mengikuti tes terakhir yaitu tes BPJS. Namun lagi-lagi keberuntungan belum memihak. Gw belum lulus. Dan akhirnya gw memutuskan untuk balik ke Lampung.
Suasana pas tes BPJS di Mahaka Square
Di Lampung gw ikut 2 tes kerja, di Bank Mandiri dan TDM. Singkat cerita akhirnya gw berhasil lulus di TDM. Perjalanan mencari kerja di tahun ini selesai. Dan perjalanan mengarungi pekerjaan pertama dimulai di bulan Juni 2017.

Juni - Desember 2017

Gw kerja di TDM selama 6 bulan. Banyak pengalaman dan pelajaran yg gw dapatkan. Utk cerita selanjutnya akan gw ceritakan di postingan selanjutnya ya. Bakal panjang kayaknya. wkwk.
Rekan kerja di TDM
Akhir Desember gw jalan-jalan bareng temen SMA ke Jogja. Akhirnya ya, for the first time gw menginjakkan kaki di tanah impian. wkwk. Ini juga postingan selanjutnya akan dikupas tuntas cerita trip to Jogja Desember 2017. Wait yaaa :D
Gw bareng temen-temen SMA di Jogja
###
Mungkin cukup sekian ya highlight my life di 2017. Sebagian besar cerita di 2017 bertemakan Perjuangan seorang fresh graduate mencari pekerjaan di Jakarta. Banyak hal yg gw dapatkan dan pelajari selama tahun 2017. Perjuangan, Keputusasaan, Keraguan, Kehampaan, maupun Kebahagiaan yang sangat tidak terduga. Bener kata orang, kamu tidak akan pernah tahu rencana Tuhan, kamu akan tercengang jika menyadari kalau rencana Tuhan itu memang yang paling indah dan sebaik-baiknya rencana. You must be grateful and thankful.

See u 2017. Hello 2018. Hello my 23rd. Be nice ya :)

5 November 2017

Bertarung Melawan Badai

Minggu, November 05, 2017 0 Comments
Pada suatu masa hiduplah seorang anak gadis berumur 11 tahun. Ia mempunyai keluarga yang lengkap dengan kedua orang tua yang bisa dibilang cukup berada dan 2 orang adik yang menggemaskan. Suatu hari ia dihadapkan pada pilihan yang akan mengubah hidupnya kelak. Ia tidak tahu apa yang terjadi tiga tahun lagi, 6 tahun lagi atau bahkan 10 tahun lagi. Ia hanya pasrah pada pilihan sebenarnya bukan pilihan yang ia buat sendiri, melainkan kehendak orang tuanya.

Maka, dimulailah perjalanan barunya. Berada di lingkungan baru yang jauh dari kedua orang tua dan keluarganya. Anak ini berusaha untuk beradaptasi cepat dan mengikuti peraturan hidup disana. Setahun, dua tahun ia berjuang bukan tanpa ujian. Pernah ia dihadapkan pada musibah yang membuatnya tidak kuat dan ingin menyerah. Namun orang tuanya berusaha untuk membuat ia bertahan, dan melanjutkannya ia tahap terakhir. 

Setelah setahun berjalan, ia merasa menikmati kehidupan disana. Dengan prestasi yang berhasil ia torehkan membuatnya mengetahui kelebihannya dibanding teman-temannya. Ia mampun menggungguli temannya dalam suatu hal dan membuatnya dapat bertahan hingga waktu itu tiba. Ia mendapatkan pelajaran baru disana, walaupun dengan serba keterbatasan ia dapat membuktikan bahwa ia bisa membanggakan kedua orang tuanya. Namun saat ia berusaha untuk mencapai lebih, ujian itu datang.

Ia memang anak kecil namun ia dapat merasakan waktu itu akan segera datang. Ia mengamati apa yang terjadi, apa yang berubah, dan apa yang dikatakan orang dewasa itu. Setiap kali ia pulang ke rumah tidak pernah tidak ada air mata. Terkadang ia dapat melewatinya, namun terkadang ia merasa tak mampu. Hal yang sering ia tanyakan dalam hati, "Kenapa kejadian ini menimpanya, kenapa tidak orang lain saja?" "Bukankah aku sudah berusaha sebaik mungkin? Tapi kenapa mereka tetap tidak menghiraukan  itu dan tetap membuat keributan? Lalu apa arti hadirku, kalau yang kulihat hanya sebuah permusuhan?"

Mungkin banyak hal yang di rasakan oleh gadis itu, ia memang tak bisa mengungkapkannya namun yang pasti ia tahu kejadian ini akan terus-menerus terjadi dan rasa sakit ini akan terus ada di dalam hatinya. Hingga pada akhirnya kekhawatirannya pun terbukti. Setelah semua prestasi ia torehkan dengan semangat ingin membahagiakan kedua orangtuanya, badai itu tanpa permisi menghampiri. Ia merasa tidak mengerti mengapa kedua orangtuanya memutuskan secara sepihak dengan tidak mendengarkan pendapatnya terlebih dahulu. 

Semuanya serba mendadak.

Dalam satu waktu semua hal berubah.

Ia memang tidak lagi berada di lingkungan itu, namun ia menjadi mengerti mengapa kedua orang tuanya memberikan pilihan tersebut kepadanya. Ia merasa mereka sudah mempersiapkannya. Agar dapat menjadi sosok gadis yang tegar ketika badai itu datang. Maka ia harus berada disana, merasakan bagaimana hidup jauh dari mereka yang sesekali mengunjungi.


Namun banyak hal yang tidak diketahui orang tuanya. Sebelum badai itu terjadi banyak hal yang mengganggu pikirannya. "Apakah benar? Apakah jika ia memberitahukan itu semua akan berubah atau malah semakin parah? Kenapa mereka tega? Apakah dia memang layak mendapatkannnya setelah semua yang pernah dilakukannya? Apakah aku harus membiarkannya hingga sampai pada satu waktu hal yang dikhawatirkan itu terjadi?"

Hingga di suatu malam ia memanggil gadis itu dalam sebuah kamar sempit. Menjelaskan yang telah terjadi dengan semua keputusan yang membuatnya tidak lagi dapat menahan perasaan itu. Sakit yang teramat dalam. Apakah ia akan merasakan kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya? Bagaimana semua ini terjadi kenapa mereka mengambil keputusan itu sendiri? Dan sekarang memintanya untuk mengerti dan menerima semua itu.

Banyak hal yang ingin ia tanyakan kala itu. Namun lagi-lagi ia tidak dapat mengutarakannya dan menyimpan rasa penasaran dan rasa sakit itu di dalam hati. Mungkin bagi sebagian anak di luar ia akan frustasi dan melakukan hal-hal yang sering dilakukan anak kebanyakan ketika didatangi badai itu. Namun ia berbeda. Benar-benar sangat berbeda.

Ia mampu disaat badai tengah menghampiri, dengan segala perubahan mendadak yang tidak ia mengerti, Ia dapat menjadi pemenang. Pemenang saat bertarung melawan badai Bahkan siapapun di luar sana tidak ada yang menyangka bahwa ia baru saja merasakan kerasnya hantaman badai itu. Ia telah berhasil bertarung melawan badai. Pilihan selanjutnya yang akan ia pilih adalah apakah tetap menjadikan badai itu sebagai ujian yang menyakitkan atau sebuah ujian menjadikannya semakin dewasa. Pilihan itu ada di tangannya. Diam-diam ia telah mengenggam erat pilihan yang telah dipilihnya sedari awal. Tanpa satupun orang yang tahu.

24 September 2017

Menghargai

Minggu, September 24, 2017 1 Comments
Apa rasanya ketika kamu bekerja pada hal yang kamu senangi? Pasti akan terasa mudah dan menyenangkan. 

Pandanganmu soal pekerjaan akan berubah total saat kamu sudah merasakan seperti apa bekerja itu. Awalnya yang kamu pikirkan bagaimana caranya mencari kerja yang layak dan memiliki banyak uang namun pikiran itu berubah menjadi bagaimana mencari pekerjaan yang lingkungannya menyenangkan.

Tentu saja, setiap orang menginginkan pekerjaan yang sempurna, menyenangkan, dan jika mendapatkan gaji yang besar. Namun terlepas dari itu, kini pandanganku terhadap pekerjaan berubah total. 

Bagiku, sebuah pekerjaan akan terasa ringan jika kamu mencintai pekerjaanmu. Kamu akan mencintai pekerjaanmu jika lingkungan disekitarmu menghargai pekerjaamu. Menjadi seorang karyawan sering yang namanya tidak dihargai. Jarang diberikan pujian. Padahal, hal tersebut adalah satu-satunya hal yang diinginkan mereka ketika bekerja. Perasaan dihargai, ketika ia telah bekerja keras.

Namun sepertinya hal tersebut seringkali dilupakan. Berapapun gaji yang kita dapat, jika kita tidak dihargai semua akan terasa sia-sia. Semua pekerjaan yang kita lakukan akan terasa seperti beban.

Hmm, mungkin itu yang tengah kurasakan.

Sama

Minggu, September 24, 2017 0 Comments
Tidak ada yang berubah.
Semua masih tetap sama.
Aku, kamu, dia.
Dan juga perasaanku.

Bahkan, tempat yang kerap kita kunjungi bersama.
Masih memiliki aroma yang sama.

Entah kenapa tiap kali aku di tempat ini.
Hasratku ingin bertemu denganmu semakin tinggi.
Namun aku hanya bisa menguburnya.
Hingga jejak itu sirna seketika.

Kamu yang disana.
Pasti tidak mengira.
Kalau aku masih tetap mengingatmu.
Bahkan tidak berhenti sedetikpun.

Diam-diam aku masih mengharapkanmu.

─ Bandar Lampung (24 September 2017)

1 Februari 2017

Masih Belum Ada Gambaran

Rabu, Februari 01, 2017 0 Comments
Semuanya akan berubah pada waktunya. Kondisi sekarang tidak akan selamanya kekal. Pada waktu yang tidak terbatas semua akan akan berganti, menjadi asing dan tak terkenali. Sekarang ataupun nanti kita harus siap menghadapinya. Karena segala hal akan berubah entah itu akan menjadi baik ataupun buruk.

Banyak hal di masa depan yang saya takuti. Seperti apa hidup saya lima tahun mendatang. Atau bersama siapa saya akan menghabiskan waktu hingga tua menjelang. Semua itu masih menjadi teka-teki kehidupan yang sampai detik inipun saya belum menemukan cluenya sedikitpun.

Ketika masa depan belum ada gambaran, disanalah kamu merasa seperti seseorang yang tidak tahu arah tujuan, kemana harus melangkah. Jika dipikir-pikir, apa yang ingin kamu lakukan saat ini atau di masa yang akan datang. Pekerjaan yang seperti apa yang kamu harapkan apakah memang itu yang paling tepat. Atau haruskah mencari pekerjaan yang jika mengerjakannya kamu tidak serasa sedang bekerja, tapi sedang melakukan hobimu yang menyenangkan.

Banyak hal yang yang sampai saat ini belum saya temukan jawabannya. Berapa kalipun saya mencoba berpikir apa yang saya inginkan sebenarnya, maka sebanyak itulah tujuan masa depan yang saya inginkan berubah. Jika melihat si A hidupnya senang, temannya banyak, pacarnya perhatian, pekerjaannya bagus maka saya memiliki hasrat untuk menjadi seperti dia. Begitupun jika si B yang memiliki hidup penuh petualangan, banyak hal yang bisa dieksplor, bertemu dengan orang baru setiap harinya, maka saya juga ingin rasanya menjadi seperti dia.

Mungkin karena sampai saat ini saya tidak kunjung menetapkan tujuan yang harus saya raih atau tujuan yang harus saya pertahankan. Maka saya tidak memiliki semangat untuk menggapainya dan tidak memiliki ambisi untuk meraihnya. Peer bagi saya untuk memikirkan mau dibawa kemana kapal ini berlayar. Apakah akan menyebrang, berjalan lurus, atau kembali menuju daratan, hanya saya yang bisa menetapkan dan menentukan. Karena ini hidup saya, masa depan saya, maka hanya saya yang mempunyai kendali. Ingat itu.

(*Dalam rangka kembali mengingatkan dan menyadarkan diri sendiri)