24 September 2017

Menghargai

Minggu, September 24, 2017 0 Comments
Apa rasanya ketika kamu bekerja pada hal yang kamu senangi? Pasti akan terasa mudah dan menyenangkan. 

Pandanganmu soal pekerjaan akan berubah total saat kamu sudah merasakan seperti apa bekerja itu. Awalnya yang kamu pikirkan bagaimana caranya mencari kerja yang layak dan memiliki banyak uang namun pikiran itu berubah menjadi bagaimana mencari pekerjaan yang lingkungannya menyenangkan.

Tentu saja, setiap orang menginginkan pekerjaan yang sempurna, menyenangkan, dan jika mendapatkan gaji yang besar. Namun terlepas dari itu, kini pandanganku terhadap pekerjaan berubah total. 

Bagiku, sebuah pekerjaan akan terasa ringan jika kamu mencintai pekerjaanmu. Kamu akan mencintai pekerjaanmu jika lingkungan disekitarmu menghargai pekerjaamu. Menjadi seorang karyawan sering yang namanya tidak dihargai. Jarang diberikan pujian. Padahal, hal tersebut adalah satu-satunya hal yang diinginkan mereka ketika bekerja. Perasaan dihargai, ketika ia telah bekerja keras.

Namun sepertinya hal tersebut seringkali dilupakan. Berapapun gaji yang kita dapat, jika kita tidak dihargai semua akan terasa sia-sia. Semua pekerjaan yang kita lakukan akan terasa seperti beban.

Hmm, mungkin itu yang tengah kurasakan.

Sama

Minggu, September 24, 2017 0 Comments
Tidak ada yang berubah.
Semua masih tetap sama.
Aku, kamu, dia.
Dan juga perasaanku.

Bahkan, tempat yang kerap kita kunjungi bersama.
Masih memiliki aroma yang sama.

Entah kenapa tiap kali aku di tempat ini.
Hasratku ingin bertemu denganmu semakin tinggi.
Namun aku hanya bisa menguburnya.
Hingga jejak itu sirna seketika.

Kamu yang disana.
Pasti tidak mengira.
Kalau aku masih tetap mengingatmu.
Bahkan tidak berhenti sedetikpun.

Diam-diam aku masih mengharapkanmu.

─ Bandar Lampung (24 September 2017)

1 Februari 2017

Masih Belum Ada Gambaran

Rabu, Februari 01, 2017 0 Comments
Semuanya akan berubah pada waktunya. Kondisi sekarang tidak akan selamanya kekal. Pada waktu yang tidak terbatas semua akan akan berganti, menjadi asing dan tak terkenali. Sekarang ataupun nanti kita harus siap menghadapinya. Karena segala hal akan berubah entah itu akan menjadi baik ataupun buruk.

Banyak hal di masa depan yang saya takuti. Seperti apa hidup saya lima tahun mendatang. Atau bersama siapa saya akan menghabiskan waktu hingga tua menjelang. Semua itu masih menjadi teka-teki kehidupan yang sampai detik inipun saya belum menemukan cluenya sedikitpun.

Ketika masa depan belum ada gambaran, disanalah kamu merasa seperti seseorang yang tidak tahu arah tujuan, kemana harus melangkah. Jika dipikir-pikir, apa yang ingin kamu lakukan saat ini atau di masa yang akan datang. Pekerjaan yang seperti apa yang kamu harapkan apakah memang itu yang paling tepat. Atau haruskah mencari pekerjaan yang jika mengerjakannya kamu tidak serasa sedang bekerja, tapi sedang melakukan hobimu yang menyenangkan.

Banyak hal yang yang sampai saat ini belum saya temukan jawabannya. Berapa kalipun saya mencoba berpikir apa yang saya inginkan sebenarnya, maka sebanyak itulah tujuan masa depan yang saya inginkan berubah. Jika melihat si A hidupnya senang, temannya banyak, pacarnya perhatian, pekerjaannya bagus maka saya memiliki hasrat untuk menjadi seperti dia. Begitupun jika si B yang memiliki hidup penuh petualangan, banyak hal yang bisa dieksplor, bertemu dengan orang baru setiap harinya, maka saya juga ingin rasanya menjadi seperti dia.

Mungkin karena sampai saat ini saya tidak kunjung menetapkan tujuan yang harus saya raih atau tujuan yang harus saya pertahankan. Maka saya tidak memiliki semangat untuk menggapainya dan tidak memiliki ambisi untuk meraihnya. Peer bagi saya untuk memikirkan mau dibawa kemana kapal ini berlayar. Apakah akan menyebrang, berjalan lurus, atau kembali menuju daratan, hanya saya yang bisa menetapkan dan menentukan. Karena ini hidup saya, masa depan saya, maka hanya saya yang mempunyai kendali. Ingat itu.

(*Dalam rangka kembali mengingatkan dan menyadarkan diri sendiri)

24 November 2016

Feeling So Blessed (23 Nov 2016)

Kamis, November 24, 2016 0 Comments
Satu kata yang dapat mewakilkan perasaan gue saat ini adalah "ALHAMDULILLAH".

Ya, kemarin atau lebih tepatnya tanggal 23 November 2016 salah satu prosesi saklar dalam hidup gue akhirnya terlaksana juga. Akhir dari perjalanan di bangku perkuliahan sarjana telah diraih dengan melaksanakan acara wisuda. Alhamdulillah, target yang dari awal gue buat untuk dapat lulus dan wisuda di tahun ini tercapai juga.

Sebenarnya dibalik rasa syukur ini, sebenarnya gue masih memiliki beberapa perasaan aneh di dalamnya.

Yang Pertama, rasa sedih meninggalkan semua kenangan di masa perkuliahan. Tentu saja, masa empat tahun itu tidaklah sebentar. Banyak memori yang telah tercipta di kampus, dengan teman-teman, dosen, dan lainnya. Gue berharap masa-masa kuliah disini dapat menjadi pengalaman berharga dalam hidup gue.

Yang kedua, rasa bingung harus berbuat apa selanjutnya. Ya, mungkin ini kesalahan terbesar gue tidak menentukan langkah selanjutnya dari jauh hari. Pilihan antara bekerja dan melanjutkan studi masih membayang di otak gue, sembari memikirkan sisi positif dan negatif jika memilih satu diantara dua pilihan tersebut. Tapi gue tahu rencana dan skenario Tuhan akan jauh lebih baik dan tidak akan pernah terkira.

Namun yang jelas di samping kedua feeling tersebut, gue tak hentinya merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang sangat berjasa dalam hidup gue. Teruntuk kedua orang tua dan keluarga, teman-teman tercinta terima kasih atas supportnya. Semua pencapaian ini tidak akan berarti tanpa kehadiran kalian di momen penting seperti saat ini. 

Jadi inilah salah satu hadiah kecil dariku untuk kalian, My beloved parents.
Terima kasih telah memberikanku dukungan dan kepercayaan, because Its mean a lot for me.
Thank you. Thank you. Massive Thank you to you all.

This is a little part of my happiness yesterday.


27 Oktober 2016

Dapatkah #Ngeblog Menjadi Sebuah Profesi?

Kamis, Oktober 27, 2016 2 Comments
Banyak orang bilang penulis itumau sampe kapanpun—gak akan membuat kaya seseorang. Menjadi seorang penulis tak layaknya seperti profesi lain semisal pekerja kantoran yang memiliki jadwal rutin setiap harinya, penulis bisa dibilang hanya dipandang sebelah mata. Ia tidak memiliki jadwal rutin ataupun tempat kerja. Bisa dikatakan, menjadi penulis tidak bisa dijadikan profesi utama dan juga tidak bisa berdiri sendiri. Ia (harus) dibarengi dengan profesi lain yang bisa lebih menjamin sebuah proses keberlangsungan hidup. Atau lebih ringkasnya, profesi penulis (seharusnya) cukup dijadikan sebagai kerjaan sampingan ataupun hobby dikala ada waktu luang.   

***

Paragraf yang saya tulis di atas tersebut tidak sepenuhnya benar dan tidak juga sepenuhnya salah. Namun beberapa kalimat tersebut bisa menggambarkan bagaimana profesi sebagai penulis itu dipandang oleh masyarakat awam pada umumnya. Memang, kalimat tersebut terkesan (sedikit) merendahkan profesi penulis, namun saya menulisnya berdasarkan apa yang telah saya dengar, lihat dan rasakan dari beberapa orang yang berprofesi sebagai penulis.

Oke, mari kita telusuri satu persatu alasan apa—menurut pandangan sayayang membuat paragraf tersebut tidak sepenuhnya benar ataupun salah. 

Tidak sepenuhnya benar karena masih ada beberapa milyader di dunia ini yang merupakan seorang penulis. Sebut saja James Patterson, JK Rowling, ataupun Stephen King. Mereka adalah bukti bahwa seorang penulis bisa menjadi orang terkaya di dunia hanya dengan menulis sebuah buku. Dan juga menjadikan penulis sebagai profesi yang (dibilang) banyak dilirik orang. Memang, jalan yang mereka lalui tidak sertamerta menjadikan mereka seorang milyader, namun bisa menjadi sebuah renungan bagi kita bahwa hanya dengan menuliskan kata-kata, seseorang dapat mengubah dunia, baik itu dunia orang lain ataupun dunianya sendiri.

Sedangkan tidak sepenuhnya salah karena memang ada beberapa penulis menyerah untuk mempertahankan profesinya tersebut. Hal itu dirasakan karena menjadi penulis tidak bisa menjanjikan seseorang dapat bertahan hidup. Banyaknya pesaing dengan tingkat kualitas yang beragam tentu membuat beberapa orang berfikir dua kali untuk menjadikan penulis sebagai profesi utama. Belum lagi dengan pasar yang tidak menentu, kapan penjualannya bisa laris ataupun turun tidak ada yang tahu. Terkecuali bagi mereka penulis yang sudah 'punya nama', hal tersebut mungkin tidak akan menjadi masalah.

Namun, dunia sudah berubah. Teknologi kian maju. Semua hal sudah bermain secara digital. Menulispun juga sudah mulai berpindah-aluan, walaupun yang lama masih tetap ada. Dari yang tadinya menorehkan tinta di atas kertas menjadi menekan tuts keyboard di laptop. Kemajuan zaman ini (seharusnya) bisa dimanfaatkan sebagai alternatif bagi orang-orang yang suka menulis namun belum cukup percaya diri untuk menjadi seorang penulis profesional. 

Berkat adanya sebuah blogmedia yang dapat membuat siapapun untuk memposting tulisan apapunbanyak orang mulai memperlihatkan kemampuannya. Sejak munculnya blog, semua orang bisa menjadi seorang penulis dan juga sekaligus menjadi seorang pembaca. Seharusnya apa-apa yang ditakutkan seorang penulis tadinya, seperti "Kalo gue nulis ada yang baca gak ntar ya?" atau "Tulisan gue ini bagus gak sih?" atau "Kalo gue terbitin jadi buku, ada yang beli gak ya?" sudah tidak ada lagi, semenjak adanya sebuah blog.

Di blog, kita bisa menulis apa aja dan orang lain bisa langsung menilai tulisan kalian. Dari bloglah semua kepercayaan diri itu (seharusnya) muncul. Dengan memposting sebuah tulisan di blog, secara tidak langsung kita terus berlatih untuk menulis semakin baik. Komentar, kritik atau masukan dari pembaca (seharusnya) bisa kita jadikan acuan sebagai motivasi untuk belajar dari kesalahan sehingga kita dapat menulis dengan lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Bahkan siapa yang sangka di masa sekarang, banyak orang di luar sana yang menjadikan blogger sebagai sebuah profesi?

Ya, berkat ketekunan, konsisten, dan kerja keras beberapa blogger bisa dibilang dapat memiliki penghasilan yang cukup menjanjikan. Semuanya diawali dari sebuah tulisan yang konsisten, tentang apapun itu, seperti menulis tentang teknologi, kuliner, daily life, atau yang lainnya. Yakinlah, satu persatu keberuntungan itu pasti akan datang menghampiri. Jika konten tulisan di blog tersebut bagus akan banyak yang memandang dan menawarkan berbagai macam hal yang tidak kalian duga sebelumnya. 

Jadi jika ditanya "Apakah Blogger itu Merupakan Sebuah Profesi?" atau lebih tepatnya "Apakah Blogger itu Layak Dikatakan Sebagai Profesi?"

Jawabannya terletak pada diri masing-masing. Sejauh mana kamu memandang dirimu sebagai seorang blogger. Banyak orang yang hanya bermodalkan internet saja (yang penting online) sudah dapat menghasilkan, jadi seorang blogger juga pasti bisa dong. Seperti membuka online shop di blog, menulis informasi bermanfaat, ataupun sharing tentang pengalaman pribadi, itu semua dapat dijadikan sebagai awal untuk profesi yang kamu harapkan nantinya. Yang terpenting, jangan dengarkan apa kata orang tentang profesimu, karena yang menjalani hidup itu kamu, bukan orang lain. Kalau nyaman, ya pertahankan.

Dari sisi saya, menjadi seorang blogger adalah wadah untuk menyalurkan hobi. Saya dapat menulis dengan leluasa hanya di blog, tanpa harus khawatir tentang apapun. Saya tidak memikirkan apakah tulisan ini dapat menjual atau tidak, yang terpenting saya dapat memanfaatkan keuntungan dari adanya blog yang dapat saya jadikan sebagai wadah untuk terus melatih kemampuan menulis yang saya punya. 

Semua orang pasti punya tujuan masing-masing, toh ya?
 
Jadi selagi #Ngeblog itu gratis dan tidak ada yang melarang, kenapa enggak dicoba aja? Mana tau cocok, ehem.. Dan kalau udah pas, pastinya bakal susah untuk melepas loh. Dan siapa sangka kalau di masa yang akan datang kamu dan blog malah jodoh dan tiba-tiba...
.
.
.
.
Kawin (eh maksudnya, jadi profesi sehidup semati gituh) Hihi..

Tapi, TETEP!! Sebaik-baiknya sebuah pilihan adalah pilihanmu sendiri.
Walaupun di masa yang akan datang kamu merasa bahwa pilihanmu salah, percayalah bahwa kamu tidak akan merasakan penyesalan yang mendalam. Karena pilihan itu datang dari hati nuranimu..

So, Could be a Blogger said as a Profession?
The answer is.. ITS YOUR CHOICE.


(Ditulis Dalam Rangka Memperingati Hari Blogger Nasional 2016)
Happy Blogger Day, Everyone^^
#HariBloggerNasional2016